Bencana Longsor dan Banjir Tersapu Gelondongan Kayu, MUI: Korban Tewas Adalah Syahid
Selasa, 02 Desember 2025
|
MUISUMBAR.or.id, JAKARTA -- Serangkaian bencana alam melanda Pulau Sumatera. Dari tanah longsor hingga banjir bandang yang tak hanya merendam permukiman, tetapi juga melenyapkan setidaknya empat kampung di Aceh. Kejadian ini mengundang perhatian serius, terutama karena banjir yang terjadi tidak hanya membawa air, tetapi juga membawa serta gelondongan-gelondongan kayu besar yang diduga kuat berasal dari aktivitas penebangan hutan. Menanggapi musibah yang menerpa tanah air ini, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis, menyampaikan pandangan dan seruan. Menurutnya, setiap musibah harus dijadikan sebagai momen muhasabah atau introspeksi diri bagi seluruh bangsa. Ia menekankan bahwa dalam perspektif Islam, bencana alam bukan semata-mata bentuk kemurkaan mutlak dari Allah SWT, tetapi juga bukan peristiwa tanpa sebab. “Ukurannya kembali pada diri kita sendiri,” ujar Kiai Cholil saat ditemui di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta, Selasa (2/12/25). “Jika musibah ini terjadi karena kita banyak berbuat haram dan salah, maka bisa jadi ini adalah teguran. Namun, jika kita dalam keadaan taat dan baik lalu diuji, maka ini adalah cara Allah mengangkat derajat kita di sisi-Nya.” Lebih dalam, Kiai Cholil menyoroti bahwa bencana yang terjadi adalah konsekuensi dari hukum alam yang tidak terelakkan. Ia mengaitkannya dengan kondisi hutan Indonesia yang semakin gundul. “Allah SWT menetapkan li kulli syaiin sabab, segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Musibah ini menjadi pengingat akan dampak dari penebangan hutan dan kerusakan lingkungan,” tuturnya. Di tengah duka yang mendalam, MUI menyampaikan kabar yang menghibur bagi keluarga korban. Kiai Cholil menegaskan bahwa orang-orang yang meninggal dalam bencana ini tergolong meninggal dalam keadaan syahid. Hal ini menjadi penegasan spiritual bahwa mereka mendapatkan tempat khusus di sisi Allah SWT. “MUI mendoakan agar musibah ini menjadi rahmat, penguat iman, dan pemersatu kita dalam tolong-menolong. Untuk para korban yang selamat, semoga diberikan kesabaran dan kehidupan yang lebih baik. Sedangkan bagi yang meninggal, semoga diampuni segala dosanya dan dijamin sebagai syahid,” imbuhnya. Melalui pernyataannya, MUI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu. Ajakan untuk memperkuat ukhuwah, saling membantu, dan mendoakan kebaikan bagi bangsa Indonesia digaungkan sebagai respon nyata menghadapi cobaan ini. Musibah kali ini bukan hanya tentang air yang surut, tetapi tentang refleksi mendasar atas hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Sumber:
|
Lainnya :
